Relawan Pemenangan Sumail Abdullah Membludak

Sumail Abdullah tengah bersama tim relawan

BANYUWANGI, Cakrawalabali | Konsolidasi dan pemantapan relawan pemenangan Prabowo-Sandi, serta calon anggota DPR RI Dapil Jatim 3 H. Sumail Abdullah dari Partai Gerindra, digelar di Pondok Wina Banyuwangi, Jumat (16/11/2018).

Caleg DPR RI dapil Jatim 3 H. Sumail Abdullah mengatakan jika relawan Prabowo-Sandi dan Sumail Abdullah Caleg DPR RI dapil Jatim 3 telah terbentuk di setiap TPS.

“Akan ada yang relawan yang bergerak secara sukarela untuk memenangkan Probowo-Sandi sakaligus untuk memenangkan Sumail Abdullah,” ujar Fraksi XI anggota DPR RI itu.

Dikatakannya relawan Padi (Prabowo-Sandi) serta relawan pemenangan Sumail Abdullah terbentuk dengan ketulusan hati, mendaftar di koordinator setiap desa, kelurahan yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Setelah pertemuan dengan koordinator yang ada di desa, para relawan di turunkan ke TPS, TPS yang ada.

“Memang hari ini yang datang pada acara konsolidasi dan pemantapan sangat luar biasa, hingga over load,” ungkapnya.

Menurut Sumail jumlah relawan yang ada di Banyuwangi saat ini mencapai 5119, sesuai sengan TPS, namun menurutnya pihaknya akan mengembangkan hingga bulan Januari 2019 nanti menjadi 10238.

“Nanti akan ada kanal yang lain, dari kelompok keagamaan, dari kelompok Alumni, yang nantinya akan turun kebawah hingga ke TPS -TPS, maka nantinya akan saling melengkapi,” katanya.

Ia menambahkan untuk melengkapi tim relawan pemenangan Prabowo-Sandi dan tim pemenangan Sumail Abdullah, pihaknya akan mempersiapkan kanal untuk mengakomodir para pewarta dan kalangan LSM.

“Jurnalis dan LSM lah yang dapat memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat, sehingga masukan masukan dari mereka akan dapat di disimpulkan untuk membuat kebijakan strategis untuk kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Anggota fraksi XI DPR RI itu menyatakan keinginannya yang membidangi perekonomian untuk selalu pro rakyat kecil, namun selaku partai oposisi yang memiliki keterbatasan maka sekuat apapun usulan ferbal yang ia lakukan, karena keputusan banyak di pihak sana, maka usulan itu tidak terselenggara dengan baik.

“Sama halnya ketika skema anggaran kami yang mengatakan harus pro rakyat, bukan pro konglomerat, namun saat ini skema penganggaran masih pro konglomerat, misalkan tol yang di bangun tidak ada di dalam Nawa Cita, dinegara negara lain untuk membangun infrastuktur yang masih sangat masif, itu dilakukan dengan kondisi ekonomi yang sangat baik, bukan dengan kondisi saat ini yang sangat memprihatinkan,” pungkasnya. (Idrs)

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*