Keris “Upakara Tidak Harus Mewah Yang Penting Iklas”

oleh

DENPASAR, Cakrawalabali | Visi yang diusung paket KERIS Calon DPD RI nomor urut 32 dapil Bali I Ketut Putra Ismayajaya yakni “Menjadikan Bali yang sejahtera dan bertaksu”, merupakan perjuangan bersama yang harus dipahami masyarakat Bali dan untuk mewujudkanya tentunya diperlukan segala dukungan dan doa restunya dari warga Bali itu sendiri.

Salah satu misinya yakni upaya untuk menyederhanakan dan meminimalisir pengeluaran keperluan upacara adat/agama di Bali yang selama ini masih terkendala pro dan kontra bahkan ada beberapa penolakan ide tersebut dari sebagian masyarakat yang merasa dengan adanya proses upacara yang mewah dan besar-besaran merupakan daya tarik tersendiri agar Bali menjadi pusat perhatian para wisatawan dari berbagai penjuru dunia hingga pada akhirnya bisa mendongkrak perekonomian Bali dari aspek pariwisata budaya nya.

Namun dampak positif terhadap pariwisata dari pemborosan biaya upakara tersebut sifatnya tidak secara langsung menguntungkan pada masyarakat yang melakukan upacara tersebut tetapi lebih berpotensi pada pekerja sektor pariwisata saja sedangkan yang terkena dampak buruknya meliputi banyak aspek diantaranya berpotensi membuat pariwisata Bali gulung tikar dan yang lebih memprihatinkan banyak umat Hindu di Bali meninggalkan agamanya karena alasan jadi orang Bali tuh terkesan ribet dan mahal karena kerap kali membutuhkan biaya besar dalam melaksanakan upacara agama nya sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangan adat dan budaya serta agama Hindu di Bali.

” Upakara itu harus disederhanakan dan tidak harus mewah yang penting keiklasanya serta tidak memberatkan karena banyak contohnya misalnya dimana dalam sebuah upakara adat karena aturan-aturan yang mengharuskan masyarakat membawa gebogan setinggi setengah meter untuk yang memiliki uang mungkin tidak masalah tapi yang saat itu tidak memiliki uang buat memenuhi aturan tersebut tentunya memberatkan, ada yang ngutang uang dan ada yang beralasan datang bulan padahal sesungguhnya mereka sedang tidak punya uang”, terang Ismaya ketika menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi dialog interaktif di RRI Denpasar, Jum’at(5/4).

Sementara itu Calon Senator yang memiliki massa di 9 kabupaten/kota tersebut dalam sesi lain menjelaskan “ini generasi kita, ini jaman kita dimana kita harus menoreh sejarah tanpa merusak apa yang diberikan leluhur serta tidak melupakan sejarah” sambungnya “segala bentuk perjuangan berat yang saya alami untuk mewujudkan cita-cita ini merupakan tugas dari Hyang Widi dan saya yakin jika itu kehendaknya maka saya akan diberi jalan kesana” pungkas calon senator yang cenderung religius dan logis dalam langkah politiknya menuju Senayan dengan bekal ideologi Kesatuan Republik Indonesia yang disingkatnya menjadi KERIS. (Dani Permana)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *